Rabu, 30 Maret 2016

TUGAS #1



Assalamu'alaikum,Wr,Wb


Untuk tugas kelompok kali ini,kami membandingkan Entrepreneurship dengan UKM melalui sisi pandang para pelaku dibidang bisnis jual beli sembako. Kami membandingkan antara seorang pengusaha sukses yaitu Alm.Bob Sadino dengan  Pak Dedi Aditya selaku pemilik toko sembako di Pasar  Lenteng Agung,Jakarta Selatan. Sebelumnya kami akan membahas secara singkat tentang Entrepreneur dengan UKM.

ENTREPRENEUR
Entrepreneurship ( Wiraswastaan) adalah kemampuan dan kemauan seseorang untuk mengambil resiko dengan menginventasi dan mempertaruhkan waktu,uang,tenaga dan segala bentuk usaha demi memulai suatu perusahaan dan menjadikannya berhasil.

Sisi keuntungan berwiraswasta :
a. memungkinkan untuk mengatur tingkat keuntungan yang diharapkan,
b. melatih ketajaman intuisi bisnis,
c. meningkatkan sifat tanggung-jawab terhadap dirinya sendiri, dan
d. memiliki wewenang untuk memerintah dan mengelola karyawannya.

Sisi kerugian beerwiraswasta :
a. tanggung-jawab yang besar terhadap kelangsungan usaha,
b. perlunya menjaga relasi yang baik terhadap pihak-pihak terkait dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan,
c. menanggung beban akibat kerugian perusahaan,
d. pencurahan waktu kerja, dan
e. maupun bentuk pengorbanan lainnya yang berkaitan dengan keluarga.

Unsur-unsur Penting Wiraswasta
Dalam wiraswasta tercakup beberapa unsur penting yang satu sama lainnya saling terkait. Unsur-unsur tersebut adalah unsur pengetahuan, unsur ketrampilan, unsur sikap mental dan unsur kewaspadaan.Unsur pengetahuan mencirikan tingkat penalaran yang dimiliki seseorang. Pada umumnya unsur pengetahuan banyak ditentukan tingkat pendidikan orang bersangkutan. Unsur ketrampilan umumnya diperoleh melalui latihan dan pengalaman kerja nyata. Unsur sikap mental menggambarkan reaksi sikap dan mental seseorang ketika menghadapi suatu situasi. Unsur kewaspadaan merupakan paduan unsur pengetahuan dan sikap mental dalam menghadapi keadaan yang akan datang.

         UKM ( Usaha Kecil dan Menengah )
     Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
Kriteria usaha kecil menurut UU no 9 Tahun 1995 adalah sebagai berikut :
1.   Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
2.   Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah)
3.   Milik Warga Negara Indonesia
4.   Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar
5.   Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

Sekilas tentang pengertian Entrepreneur dan UKM, sekarang kita membandingan seorang Entrepreneur dengan UKM lewat hasil wawancara dan pencarian informasi.


Pada hari Rabu tanggal 30 Maret 2015, kami melakukan wawancara pada seorang pemilik Usaha Kecil dan Menengah(UKM). Beliau bernama Pak Dedi Aditya, pemilik Toko Sapri Sembako di Pasar Lenteng Agung Jakarta Selatan. Beliau telah memulai usahanya sejak 2004 lalu. Sebelumnya beliau pernah membuka toko di pasar lain.

Beliau memulai usahanya dengan modal awal sekitar 30 juta rupiah sesuai dengan harga pada tahun 2004. Saat ini, usaha beliau dibantu oleh 5 karyawan. Dengan upah 100ribu/hari. Ditoko beliau system pelayanannya masih dengan pembeli datang untuk membeli secara langsung dan beliau juga melakukan system kirim antar barang bila pelanggan memag segera membutuhkannya. Dalam satu hari beliau mampu melakukan penjualan sebesar 15-20 juta rupiah. Beliau menganggap saat ini belum ada rintangan yang sulit untuk diselesaikan. Dan untuk pesaing menurut beliau masih terkontrol dengan menjual barang yang masih standar harga pasar. Cara beliau agar mendapat pelanggan tetap dengan memberikan pelayanan yang maksimal, menyediakan stok barang yang lebih banyak lagi dan tetap konsisten dengan harga pasar yang ada.




Untuk berikutnya, beliau masih ada keinginan lain dalam memperluas usahanya. Beliau juga ingin menambah usahanya dengan membuka cabang ditempat lain. Tetapi beliau juga masih takut bila usahanya jatuh dan pesismis akan peluang yang ada.
Lalu selanjutnya profil dan Biodata Bob Sadino



Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Wafat : Jakarta, 19 Januari 2015
Agama : Islam

Pendidikan :

·                     -SD, Yogyakarta (1947)
·                     -SMP, Jakarta (1950)
·                     -SMA, Jakarta (1953)
Karir :

·                     Karyawan Unilever (1954-1955)
·                     Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
·                     Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
·                     Dirut PT Boga Catur Rata
·                     PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
·                     PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981



Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Kita memilih Bob Sadino sendiri menurut kita beliau seorang entrepreneur yang hebat dan sangat berpengalaman. Banyak pesan yang dapat diambil dari beliau.

Sejarah sedikit tentang usaha beliau hingga menjadi sukses:
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19. Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan.Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.  Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik.Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam. Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.


     Kesimpulan

Dilihat dari wawancara kami terhadap usaha kecil menengah dan biografi seorang Entrepreneur, Bob Sadino. Kami menyimpulkan bahwa terlihat perbedaan yang besar terhadap keduanya, perbandingannya:

  1. Seorang ukm masih takut untuk membesarkan usahanya dan mereka pesimis akan peluang yang ada,sedangkan seorang entrepreneur tidak takut akan kegagalan,bila gagal harus bangkit dan bangun lagi dan optimis akan peluang.
  2. Seorang ukm yang kita wawacarai tidak mau membuat atau menghasilkan suatu produk sendiri,menurut beliau sudah banyak produk yang ada jadi beliau takut akan membuat suatu produk dan produknya tidak laku.Beda dengan seorang entrepreneur yang akan selalu menghasilkan hal baru agar konsumen tidak bosan dan tetap membeli produknya.
  3. Tujuanseorang ukm untuk mencukupi kehidupannya dan agar tidak mengganggur sedangkan menurut seorang entrepeneur,dengan adanya tujuan,maka seseorang hanya tertuju pada satu titik yang naanya tujuan.Dia tidak akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang melebihi titik tersebut.Padahal potensi setiap orang sangat mungkin melewati titik tersebut.


Sekian laporan hasil pengamatan  kami,kurang lebihnya mohon maaf.

Wassalamu'alaikum,Wr,Wb

KELOMPOK 3

ADITIA PUTERA (1215210010)
DZULFA KAUTSARI (1215210107
FITRI WULANDARI (1215210134)
KENNYA PRIMA PUTRI (1215210175)
NUR'AINI RIZKI VIRGITA (1215210243)
RUVIKA FAUZIA (1215210284)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar